Artikel Fikri Mahmud

Urgensi "Fiqih Realitas"

Home
Pengantar
Gerakan Teroris Dalam Masyarakat Islam: Analisis Terhadap Gerakan Jemaah Islamiah (JI)
Citra Barat Tentang Islam: Tinjauan Terhadap Kes Karikatur Nabi Muhammad
Landasan Relijuis Keganasan Israel
Islam dan Imej Keganasan: Satu Analisa Tentang Prinsip Jihad Dalam Al-Qur'an
Urgensi "Fiqih Realitas"
Antara Bahasa, Fikiran, dan Tindakan
Politik dan Perpecahan Umat Islam: Latar Belakang Sejarah
Keadilan Kata-kata Dalam Perspektif Islam dan General Semantic
Punca Perselisihan Umat Islam Malaysia: Masalah Definisi
Penyakit "Extension" Dalam Logika Politik
Konsep Diri dan Agama
Revitalisasi Syariah Islam: Perlunya Sikap Terbuka Memandang Mazhab

 

URGENSI FIQIH REALITAS

Oleh: Fikri Mahmud

 

Sudah dua kali Syaikh al-Azhar, Prof. Dr. Muhammad Sayyid Thanthawi, mendapat sorotan di Malaysia. Pertama, tahun lalu, ketika ia diundang ke negara itu, kemudian ia mengatakan bahwa Malaysia adalah model negara Islam yang harus dijadikan contoh oleh negara-negara Islam lainnya. Pernyataanya ini membuat ulama-ulama PAS (Partai Islam se-Malaysia) kebakaran jenggot. Bagi mereka Malaysia bukan negara Islam, karena hukum Islam (hudud) belum dilaksanakan lagi. Inilah yang diperjuangkan oleh PAS selama ini. Isu negara Islam adalah isu penting yang selalu dibangkitkan oleh PAS untuk mendapatkan dukungan. Maka dengan keluarnya pernyataan Syaikh tersebut, PAS telah dilecehkan. Sebaliknya UMNO yang diuntungkan. Mass media di Malaysia, yang berada dibawah arahan Kementrian Penerangan, mengekspos pandangan Syaikh itu besar-besaran. Tentu saja ulama-ulama PAS mengecam Syaikh Thanthawi. Bagaimana sang Syaikh membuat kesimpulan seperti itu, padahal ia hanya dibawa berkeliling ke Putrajaya (bandar termegah di Malaysia), pusat-pusat kegiatan Islam, dan beberapa tempat yang indah-indah saja. Syaikh Thanthawi tidak mengetahui tempat-tampat pelacuran sperti Chow Kit, Bangsar, Ampang, dan lorong-lorong gelap lainnya; menaburnya VCD lucah (porno); jumlah penagih dadah (pencandu narkotika) yang semakin meningkat; menjamurnya pusat-pusat perjudian; setiap hari surat kabar dihiasi dengan berita-berita perampokan, pembunuhan, pemerkosaan anak-anak dibawah umur; sumbang mahram (hubungan seks sedarah); jumlah anak luar nikah yang terdaftar saja sudah melebihi 50.000 orang; gadis-gadis remaja usia sekolah semakin banyak yang bunting tanpa suami; dan banyak lagi lainnya. Inikah model negara Islam yang harus dijadikan contoh oleh negara-negara Islam lainnya? Ulama-ulama PAS mempertanyakan akurasi pandangan Syaikh al-Azhar sebagai seorang ilmuan. Mungkin Syaikh Thanthawi menilai dari segi pembangunan dan kemajuan teknologi komunikasi yang dimiliki oleh Malaysia dewasa ini. Dari segi ini memang tidak dapat dinafikan bahwa Malaysia merupakan negara Islam yang paling terkemuka. Tetapi, ulama-ulama PAS menilainya dari segi moral dan akhlak. Bukankah rasul diutus untuk memperbaiki akhlak manusia?

Kedua, setelah Syaikh Thanthawi baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mendukung rencana pemerintah Perancis melarang pelajar muslimah memakai jilbab di sekolah-sekolah. Menurutnya, Perancis bukan negara Islam; pemerintahnya berhak membuat peraturan yang sesuai dengan prinsif negara tersebut. Jika umat Islam tidak berpuas hati, mereka harus keluar dari negara itu. Pernyataan Syaikh ini mendapat bantahan keras dari banyak ulama, termasuk dari al-Azhar sendiri. Di Malaysia ulama-ulama PAS menyorotinya dengan tajam. Ini membuktikan bahwa pandangan Syaikh al-Azhar itu tidak selalu tepat. Maka pernyataannya yang pertama di atas diungkit kembali. Syaikh Thanthawi dianggap hanya berpegang kepada Fiqih Nash secara literal. Dalam Fiqih memang dinyatakan bahwa hukum Islam hanya berlaku di negara Islam saja, di negara non-Islam seperti Perancis tidak berlaku. Sebaliknya Syaikh Thanthawi dianggap kurang memahami Fiqih Realitas.

Fiqih Realitas

Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya, al-Sunnah Mashdaran li al-Marifah wa al-Hadharah, memperkenalkan istilah  Fiqh al-Waqi' . Secara harfiah Fiqh bermakna: pemahaman. Sedangkan al-Waqi bermakna: kenyataan atau realitas yang ada. Fiqh al-Waqi dapat dijelaskan sebagai "pemahaman tentang raelitas atau situasi dan kondisi yang sedang terjadi". Untuk memudahkan istilahnya, sebut saja Fiqih Realitas. Fiqih Realitas memaksa seorang faqih (ahli fiqih) memahami tanda-tanda zaman, mengkaji baik-buruk, untung-rugi dari realitas kehidupan. Fiqih Realitas sangat penting dalam al-Siyasah al-Syariyyah. Apa itu al-Siyasah al-Syariyyah? Ibn Aqil, seorang ulama mazhab Hanbali yang pandangannya dikutip oleh Ibn Qayyim dalam bukunya al-Thuruq al-Hukmiyyah fi al-Siyasah al-Syariyyah, menjelaskannya sebagai "suatu (kebijaksanaan) yang dapat mendekatkan manusia kepada kebaikan dan menjauhkan mereka daripada keburukan, walaupun tidak dijelaskan oleh rasul dan tidak diterangkan dalam al-Quran". Dengan demikian, maka para pemimpin dan ulama diharapkan mencari jalan bagaimana supaya umat Islam mendapat kebaikan dan terhindar daripada keburukan. Apakah dukungan Syaikh Thanthawi terhadap pemerintah Perancis itu akan menguntungkan umat Islam?

Ancaman Islam

Sejak akhir tahun 1980-an, ketika blok komunis berkecai, dunia Barat mulai melihat kepada umat Islam sebagai ancaman. Patrick J. Bucanan dalam artikelnya "Rising Islam may Overwhelm the West" yang dimuat pada New Hampshire Sunday News, 20 Agustus 1989, melihat ancaman Islam dari tiga segi: politik, demografis, dan sosial agama. Ancaman muslim dianggap bersifat global. Imigran-imigran muslim membanjiri negara-negara Barat, mereka berkembang biak di sana. Kemudian Barry Buzan memperkuat pandangan Bucanan di atas. Dalam artikelnya "New Patterns of Global Security in the Twenty-First Century" yang dimuat pada jurnal International Affairs, Vol. 67, No. 3, Buzan mengatakan bahwa Islam merupakan ancaman yang potensial bagi Barat. Menurutnya ancaman Islam dapat dilihat dari empat segi: (1). Dari segi geografis, negara-negara Islam berbatasan lansung dengan Barat (Eropah); (2). Dari segi historis, Islam merupakan musuh Barat (sejak abad pertengahan lagi); (3). Dari segi politik, Islam memainkan peranan penting dalam kehidupan politik umatnya (tidak menganut sistem sekuler); dan (4). Dari segi budaya, Islam sudah menjadi identitas kolektif yang kuat dan meluas. Buzan juga melihat bahwa migrasi penduduk muslim ke negara-negara Barat dapat menimbulkan semacam perang dingin sosial yang disebutnya dengan societal cold war. Buzan menegaskan : "For all these reason and others, there may will be a substantial constituency in the West prepared not only to support a societal Cold War with Islam, but to adopt policies that encourage it" (karena alasan-alasan ini dan banyak lagi lainnya, seharusnya ada lembaga yang substansial di Barat, yang merancang bukan saja untuk menyokong Perang Dingin sosial dengan Islam, tetapi juga mengambil perencanaan yang menggalakkannya). Samuel P. Huntington, penulis "The Clash Of Civilizations?" yang termasyhur itu, dalam wawancaranya dengan La Croix, Paris, 21-22 Januari 1996, juga mengakui adanya ancaman demografis umat Islam itu. "most global threat for the West lies in the demographic expansion of the muslim population" (ancaman yang paling global bagi Barat adalah terletak pada ekspansi demografis umat Islam), kata Huntington.

Jadi, keberadaan umat Islam di Barat sudah lama menjadi perhatian. Kini Syaikh Thanthawi mendukung kebijaksanaan pemerintah Perancis dan menyuruh umat Islam supaya keluar saja dari negara tersebut. Apakah Syaikh tidak sadar bahwa negara-negara lain dapat mengikuti langkah Perancis dan membuat segala macam peraturan yang akan mempersempit ruang gerak umat Islam, sehingga mereka benar-benar tidak betah lagi tinggal di sana? Seharusnya Syaikh Thanthawi mengangkat isu hak asasi manusia ketika menanggapi perkara tersebut. Bukankah negara-negara Barat menjadikan isu hak asasi sebagai alat untuk menekan pemerintah berkenaan dengan hak kaum minoritas di negara-negara Islam? Tidakkah umat Islam sebagai kaum minoritas di negara-negara Barat juga punya hak asasi untuk menjalankan agama mereka?

Dalam Berita Harian, 28 Januari 2004, dilaporkan bahwa belum lagi rencana undang-undang pelarangan jilbab itu disetujui oleh parlemen Perancis, umat Islam sudah mendapat tekanan di negara itu. Seorang dokter mensyaratkan kepada pasien yang ingin berobat dengannya supaya tidak memakai jilbab ketika memasuki kliniknya. Sepasang suami istri tidak dibenarkan memasuki sebuah bank, karena sang istri memakai jilbab. Syaikh Thanthawi telah memberikan lampu hijau kepada negara-negara Barat untuk berbuat sekehendak hati mereka terhadap umat Islam. Karena kurang memahami realitas Syaikh Thanthawi mengeluarkan pernyataannya yang pertama. Dan karena kurang memahami realitas juga ia mengeluarkan pernyataan yang kedua. Untuk hidup dalam era yang serba menantang ini, kita tidak hanya memerlukan Fiqih Nash, tetapi juga membutuhkan Fiqih Realitas.  Wallahu Alam !

 Kuala Lumpur, Februari 2004