Artikel Fikri Mahmud

Landasan Relijuis Keganasan Israel

Home
Pengantar
Gerakan Teroris Dalam Masyarakat Islam: Analisis Terhadap Gerakan Jemaah Islamiah (JI)
Citra Barat Tentang Islam: Tinjauan Terhadap Kes Karikatur Nabi Muhammad
Landasan Relijuis Keganasan Israel
Islam dan Imej Keganasan: Satu Analisa Tentang Prinsip Jihad Dalam Al-Qur'an
Urgensi "Fiqih Realitas"
Antara Bahasa, Fikiran, dan Tindakan
Politik dan Perpecahan Umat Islam: Latar Belakang Sejarah
Keadilan Kata-kata Dalam Perspektif Islam dan General Semantic
Punca Perselisihan Umat Islam Malaysia: Masalah Definisi
Penyakit "Extension" Dalam Logika Politik
Konsep Diri dan Agama
Revitalisasi Syariah Islam: Perlunya Sikap Terbuka Memandang Mazhab
 

LANDASAN RELIJIUS KEGANASAN ISRAEL

 

Fikri Mahmud

 

 

Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, … dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas merek sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka.

(Ulangan, 7: 1-2)

 

 

AGAMA DAN PERILAKU BUDAYA

 

            Menurut Eric Fromm, “Etika dan agama merupakan dua persoalan yang sangat berkaitan, sehingga tak pelak sering overlapping.” (Fromm (1988), h. vii). Harus dicatat bahwa agama bagi Fromm tidak hanya terbatas pada agama samawi saja, tapi “any system of though and action shared by a group which gives the individual a frame of orientation and object of devotion.” (setiap sistem berfikir dan berperilaku yang dilaksanakan secara bersama oleh suatu kelompok yang memberikan kepada individu kerangka orientasi (hala tuju) dan objek pengabdian).

 

            Agama pada definisi di atas adalah agama dalam pengertian Antropologi-Budaya yang mengakui ideologi, agama nenek moyang, ataupun aliran kepercayaan, sebagai sumber nilai budaya yang mempengaruhi semua bidang kehidupan. Oleh karena itu, tidak ada “kebudayaan masa lalu”, malah bisa tak bakal ada “kebudayaan masa depan” yang tidak memiliki agama dalam konteks pengertian luas definisi tersebut. (Ibid, h. 20). Dari itu lahirlah “axioma parsonian” yang berbunyi: “Perilaku seseorang adalah manifestasi dari masyarakatnya, masyarakatnya adalah manifestasi dari nilai budaya suku bangsanya, dan nilai budaya suku bangsanya adalah manifestasi dari agama nenek moyangnya atau keyakinan keagamaannya.” (Tampubolon (1993), h. 28).

 

            Tulisan ini hendak melacak latar belakang keganasan Israel di Timur Tengah umumnya, dan terhadap bangsa Palestina khususnya. Penulis mencoba memaparkan teks-teks Perjanjian Lama yang boleh mengilhami keganasan bagi bangsa Yahudi. Tiga tema utama akan dibahas secara berurutan: bangsa pilihan, janji Allah, dan keganasan Bani Israel. Bagi seorang muslim, ayat-ayat yang dipaparkan berikut ini akan membuatnya tercengang dan mempertanyakan keabsahannya. Penulis hanya akan menukil apa adanya, tanpa berpretensi untuk mentafsirkan lebih dari seadanya.

 

BANGSA PILIHAN

 

            Menurut Perjanjian Lama (Old Testament), Bani Israel adalah bangsa pilihan; “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” (Ulangan, 7: 6 dan 14: 2). Malah bukan hanya sekadar bangsa pilihan, tetapi mereka adalah “anak-anak TUHAN” (Ibid, 14: 1). Inilah landasan superioritas bangsa Yahudi. Lalu, bagaimana pandangan mereka terhadap bangsa lain?

 

            Dr. Tawfiq al-Wa‘iy mencatat 26 point pandangan mereka terhadap umat lain yang disarikannya dari Talmud, di sini hanya disalinkan sebahagiannya saja: bangsa asing (selain Yahudi) adalah anjing; selain Yahudi hanyalah binatang berbentuk manusia, Allah menciptakan mereka dalam bentuk manusia gunanya supaya berkhidmat kepada bangsa Yahudi; kehidupan non-Yahudi adalah milik bangsa Yahudi, apalagi harta benda mereka; diharamkan bagi Yahudi menolong bangsa asing; siapa yang membunuh bangsa asing akan diberi balasan kekal di dalam syurga Firdaus; dibolehkan –bahkan diwajibkan—menipu orang yang bukan Yahudi; rumah-rumah non-Yahudi sama dengan kandang-kandang binatang; riba diharamkan kepada sesama Yahudi, dan dianjurkan kepada selain Yahudi; berzina dengan non-Yahudi dibolehkan; lelaki Yahudi tidak dianggap bersalah jika ia menodai kesucian wanita non-Yahudi yang sudah bersuami sekalipun, sebab akad nikahnya tidak dianggap sah, karena wanita non-Yahudi itu adalah binatang, sedangkan akad nikah tentu tidak ada di antara binatang; lelaki Yahudi berhak merampas wanita-wanita non-Yahudi. (al-Wa‘iy (1995), h. 45-49).

 

            Kemudian Dr. Muhammad al-Bar menambahkan: seorang perempuan Yahudi tidak berhak mendakwa suaminya jika suaminya itu berzina dengan perempuan non-Yahudi, walaupun berlaku dalam rumah tempat tinggalnya dan suaminya itu, karena sang suami hanyalah berzina dengan seekor binatang yang tidak mempunyai kehormatan; Yahudi berhak mencuri harta non-Yahudi, dan itu tidak dianggap sebagai kegiatan pencurian, tetapi dipandang sebagai mengambil harta Yahudi itu sendiri. Sebab seluruh isi alam ini diciptakan Tuhan hanya untuk orang Yahudi; jika seorang non-Yahudi memukul seorang Yahudi, maka samalah ia dengan memukul kemuliaan Tuhan, ia berhak dihukum mati; semua orang Yahudi wajib mencurahkan segala tenaga mereka untuk menghalangi umat lain berkuasa di muka bumi ini, agar kekuasaan hanya berada di tangan bagsa Yahudi semata. (al-Bar (1998), h. 69-70). Pandangan-pandangan di atas dapat mengilhami gerakan keganasan bagi bangsa Yahudi.

 

JANJI ALLAH

 

            Selanjutnya, janji Allah kepada Abram (nama Ibrahim sebelum disebut Abraham) juga boleh mendorong keganasan. Menurut Perjanjian Lama Allah berfirman:

 

Setelah Lot berpisah daripada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.”

(Kejadian, 13: 14-15)

 

Pada ayat lain, janji tersebut dipertegas lagi: “Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.” (Ibid., 15: 18). Tanah tersebut terdapat di wilayah-wilayah yng kini dikuasai Mesir, Yordania, Palestina, Lebanon, Syria dan Iraq sekarang. Dengan demikian dapat difahami mengapa Israel selalu bermusuhan dengan negara-negara tersebut.

 

            Lalu, siapa yang dimaksud dengan keturunan Ibrahim yang bakal mewarisi tanah-tanah itu? Menurut Perjanjian Lama, Ibrahim mempunyai tiga orang isteri: Sara, Hagar, dan Ketura. Mulanya daripada Hagar ia memperoleh seorang anak lelaki, Ismail. Kemudian Sara melahirkan Ishaq. Setelah Sara meninggal, Ibrahim kawin dengan Ketura dan memperoleh anak: Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. Hagar dan Ismail diusir atas permintaan Sara. Ismail menetap di padang gurun Paran (Makkah sekarang) sebagai seorang pemanah (Ibid., 21: 20-21). Sedangkan anak-anaknya yang lain, dari Ketura, disuruh pergi ke Tanah Timur. Mereka diusir pergi karena ibu mereka hanyalah seorang gundik. (Ibid., 25: 1-6). Hanya Ishaq saja yang diakui sebagai keturunan Ibrahim dan berhak menduduki tanah yang dijanjikan itu:

 

Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu (Hagar) beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu. Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunanmu dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu.”

(Ibid, 21: 10-13)

 

Kemudian, Ishak mempunyai dua orang putera: Esau dan Yakub. Namun, hanya keturunan Yakub pula yang berhak mewarisi tanah tersebut:

 

Firman Allah kepadanya: “Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel. Itulah yang akan menjadi namamu.” Maka Allah menamai dia Israel. Lagi firman Allah kepadanya: “ Akulah Allah yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu. Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu.”

(Ibid., 35: 10-12)

 

                                                                                                                                                                                       

                Yakub mempunyai dua belas orang anak laki-laki, merekalah yang kemudian menjadi bangsa Yahudi yang dua belas itu. Karena paceklik, Yakub dan seluruh keluarganya pindah dari Kanaan ke Mesir, mengikuti Yusuf yang menjadi Menteri Pangan di sana. Mereka berkembang biak di Mesir. Lama setelah Yusuf meninggal, muncullah raja-raja yang menindas Bani Israel, memperbudak dan memperkejakan mereka dengan paksa dan kejam. Kemudian Allah mengutus Musa untuk menyelamatkan mereka. Musa berhasil mengeluarkan bangsanya dari Mesir, ia membawa mereka kembali ke Kanaan, tanah yang dijanjikan. Namun, Musa tidak sempat memasuki negeri itu, Tuhan hanya memperlihatkannya kepada Musa dari puncak Pisga, di atas gunung Nebo dekat Yerikho. Ia meninggal sebelum sampai ke sana dan dikuburkan di sebuah lembah di tanah Moab (Ulangan, 34: 1-6). Selanjutnya Yosua lah yang memimpin Bani Israel merebut tanah itu.

 

KEGANASAN BANI ISRAEL

 

1.       di zaman Musa.

 

Keganasan pertama terjadi di zaman Musa, terhadap orang Midian. Penyebabnya adalah ketika Bani Israel tinggal di Sitim, kaum lelaki mereka berzina dengan perempuan-perempuan Moab. Perempuan-perempuan itu berhasil mengajak mereka ke tempat korban sembelihan tuhan mereka, sehingga lelaki-lelaki Israel tadi turut memakan daging korban dan ikut pula menyembah tuhan bangsa tersebut (dewa Baal-Peor). Akibatnya TUHAN murka kepada Bani Israel dan memerintahkan supaya orang-orang yang terlibat dalam skandal itu dihukum mati. Maka dibunuhlah mereka semuanya, jumlah mereka semuanya 24.000 (dua puluh empat ribu) orang. Sebuah jumlah yang spektakuler, apalagi untuk ukuran masa itu. Kemudian Tuhan memerintahkan kepada Musa agar menyerang orang Midian, sebagai balasan bagi mereka (Bilangan, 25: 1-17).

 

Bala tentara Israel menyerang Midian di bawah komando Pinehas bin Eleazar, cucu Harun. Selanjutnya diceritakan:

 

Kemudian berperanglah mereka melawan Midian, seperti yang diperintahkan Tuhan kepada Musa, lalu membunuh semua laki-laki mereka. Selain dari orang-orang yang mati terbunuh itu, mereka pun membunuh raja-raja Midian, yakni Ewi, Rekem, Zur, Hur, dan Reba, kelima raja Midian, juga Bileam bin Beor dibunuh mereka dengan pedang. Kemudian Israel menawan perempuan-perempuan Midian dan anak-anak mereka; juga segala hewan, segala ternak dan segenap kekayaan mereka dijarah. Dan segala kota kediaman serta segala tempat perkemahan mereka dibakar.

(Ibid., 31: 7-10)

 

 

Semua tawanan dan harta jarahan tersebut dibawa menghadap Musa, ia memanggil pemimpin-pemimpin bala tentaranya.

 

Dan Musa berkata kepada mereka: “Kamu biarkan semua perempuan hidup? Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia kepada TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN. Maka sekarang bunuhlah semua laki-laki di antara anak-anak mereka, dan juga semua perempuan yang pernah bersetubuh dengan laki-laki haruslah kamu bunuh. Tetapi semua orang muda di antara perempuan yang belum pernah bersetubuh dengan lelaki haruslah kamu biarkan hidup bagimu.

                                                                                                 (Ibid., 31: 15-18)

 

Inilah keganasan pertama yang dilakukan oleh bani Israel, menurut Perjanjian Lama, dilakukan atas perintah TUHAN melalui Musa. Setelah itu, pembantaian demi pembantaian selalu dilaksanakan. Dalam perjalanan mereka menuju tanah yang dijanjikan itu, mereka melalui Hesybon. Tetapi Sihon, raja Hesybon tidak mengizinkan mereka melewati negeriny. Maka Israel menyerang negeri tersebut, menumpas semua penduduknya, tidak seorangpun dibiarkan luput. Hanya hewan ternak dan harta jarahan yang diambil (Ulangan, 2: 26-37). Kemudian mereka menyerang Basan dan menghabisi semua penduduknya, seperti yang dilakukan terhadap Hesybon (Ibid., 3: 1-7).

 

2.      di masa Yosua.

 

            Setelah Musa meninggal, Bani Israel dipimpin oleh Yosua bin Nun. Yosua lah yang memimpin Bani Israel memasuki dan merebut tanah yang dijanjikan. Kota pertama yang direbut adalah Yerikho. Yosua berhasil merebut kota itu dengan bantuan seorang perempuan sundal, Rahab namanya, yang menyembunyikan dua orang mata-mata Bani Israel sebelum penyerangan dimulai. Kota itu dimusnahkan. Kepada bangsanya Yosua berkata:

 

Bersoraklah, sebab TUHAN telah menyerahkan kota ini kepadamu! Dan kota itu dengan segala isinya akan dikhususkan bagi TUHAN untuk dimusnahkan; hanya Rahab, perempuan sundal itu, akan tetap hidup, Ia dengan semua orang yang bersama-sama dengan dia di dalam rumah itu, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang kita suruh.

(Yosua, 6: 16-17)

 

Kota itu pun diserbu, “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda, sampai kepada lembu, domba dan keledai.” (Ibid., ayat 21). Pendek kata, semua yang bernyawa dimusnahkan, sesuai dengan perintah TUHAN: “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apa pun yang bernafas, melainkan kau tumpas sama sekali.” (Ulangan, 20: 16-17).

Setelah itu, TUHAN memerintahkan agar Yosua menyerang kota Ai: “Dan haruslah kau lakukan kepada Ai dan rajanya, seperti yang kau lakukan kepada Yerikho dan rajanya; hanya barang-barangnya dan ternaknya boleh kamu jarah.” (Yosua, 8: 2). Yosua berangkat menyerang Ai dengan kekuatan 30.000 (tiga puluh ribu) bala tentara.

 

Orang-orang Ai ditewaskan, sehingga seorang pun dari mereka tidak ada yang dibiarkan terlepas atau luput. Tetapi raja Ai ditangkap mereka hidup-hidup dan dihadapkan kepada Yosua.  Segera sesudah orang Israel selesai membunuh seluruh penduduk kota Ai di padang terbuka kemana orang Israel mengejar mereka, dan orang-orang ini semuanya tewas oleh mata pedang sampai orang yang penghabisan, maka seluruh Israel kembali ke Ai dan memukul kota itu  dengan mata pedang. Jumlah semua orang yang tewas pada hari itu, baik laki-laki maupun perempuan, ada dua belas ribu orang, semuanya orang Ai. Dan Yosua tidak menarik tangannya yang mengacungkan lembing itu, sebelum seluruh penduduk kota Ai ditumpasnya. Hanya ternak dan barang-barang kota itu dijarah oleh orang Israel, sesuai dengan firman TUHAN, yang diperintahkannya kepada Yosua. Yosua membakar Ai dan membuatnya menjadi timbunan puing untuk selama-lamanya, menjadi tempat yang tandus sampai sekarang. Dan raja Ai digantungnya pada sebuah tiang sampai petang.

(Ibid., ayt 22-29)

 

Demikilah, kota demi kota diserbu oleh Yosua, ditumpas dan dimusnahkannya. Kitab Yosua dalam Perjanjian Lama itu penuh dengan cerita-cerita pembantaian dan pemusnahan, oleh karena itu Dr. Muhammad Ali al-Bar menamainya dengan “Safar al-Majazir” (Kitab Pembantaian). (al-Bar (1990), h. 328).

 

  1. di masa perbudakan

 

Tanah Israel diserang oleh Nebukadnezar, raja Babel, sekitar tahun 588 SM (Sebelum Masehi). Penduduk Israel diboyong ke Iraq sebagai budak tawanan. Tujuh puluh tahun lamanya mereka berada di bawah kekuasaan Babel, sampai Iraq ditaklukkan oleh Koresh, raja Persia. Di masa pemerintahan Persia, ketika raja Ahasyweros berkuasa, ada seorang wazir yang sangat benci kepada Bani Israel, Haman namanya. Ia berencana hendak memusnahkan mereka semuanya. Rencananya itu diketahui oleh Mordekhai, ia melaporkan kepada Ester, isteri raja yang juga wanita Yahudi dan anak paman Mordekhai, tetapi ia menyamar tanpa diketahui ke-Yahudi-annya oleh raja. Ester dengan kecerdikannya berhasil menggagalkan rencana itu, ia dapat membujuk raja untuk  menghukum mati Haman dan membunuh orang-orang yang setia kepada Haman. Akhirnya orang-orang Yahudi berhasil membunuh musuh-musuh mereka, baik laki-laki maupun perempuan dan anak-anak, dalam satu hari saja sebanyak 75.000 (tujuh puluh lima ribu) orang banyaknya. Untuk memperingati keganasan tersebut, Mordekhai memerintahkan supaya pada tanggal 14 dan 15 bulan Azar (Maret) setiap tahunnya diadakan hari raya, yaitu hari raya Purim, yang selalu diperingati sampai sekarang. Kisah tersebut dapat dibaca pada Perjanjian Lama, Kitab Ester. Inilah satu-satunya bangsa yang menjadikan pembantaian yang mereka lakaukan sebagai hari raya agama.

 

Pada masa Koresh, anak tiri Ester dan dengan bujukannya, Bani Israel diizinkan pulang ke tanah yang dijanjikan. Koresh juga memerintahkan supaya dibangun kembali rumah TUHAN (Haykal) yang sebelumnya dihancurkan oleh Nebukadnezar (lihat Ezra, 1: 1-4). Tanah yang dijanjikan tetap berada dibawah kekuasaan raja-raja Persia, sampai tahun 330 SM ketika Iskandar dari Macedonia merebutnya dan mengalahkan kekuasaan Persia. Orang Israel berada di bawah kekuasaan Yunani, sampai tahun 63 SM Romawi datang pula dan merebutnya dari tangan Yunani. Pada masa pemerintahan Romawi itu orang-orang Israel terlibat dalam berbagai pemberontakan. Tahun 70 Masehi, Titus, penguasa Romawi menghajar bangsa Yahudi dan menghancurkan Yerusalem, rumah Tuhan diratakannya dengan tanah. Bani Israel berlarian, berpencar menyelamatkan diri ke negara-negara tetangga, seperti: Mesir, Cyprus, Libya, dan Jazirah Arabia (mereka menetap di Khaybar, Tayma’, Wadi al-Qura, Madinah dan Yaman). Lebih 500 tahun Yerusalem  dikuasai oleh Romawi. Pada tahun 638 M, di masa pemerintahan Umar bin Khattab, tanah yang dijanjikan itu dibebaskan oleh umat Islam dari tangan Romawi. Selama itu bangsa Israel menyebar ke penjuru dunia tanpa tanah air yang jelas. Dan Yerusalem tetap dikuasai oleh bangsa Arab, Umat Islam, sampai tahun 1948 Israel datang merebutnya dengan bantuan British dan memproklamirkan negara Yahudi di tanah yang dijanjikan tersebut, hingga hari ini persengketaan antara bangsa Arab dan Israel tidak kunjung selesai.

 

  1. di zaman modern

 

Keganasan bangsa Israel di Timur Tengah, terhadap bangsa Palestina khususnya, haruslah dilihat dalam kerangka agama di atas. Sejak tahun 1947 sampai tahun 1958 saja, Israel telah merebut lebih dari 250 daerah yang didiami bangsa Arab. Penduduknya diusir, rumah mereka dihancurkan. Pembantaian demi pembantaian tetap berlanjut. Sudah berapa banyak nyawa terkorban, hanya Allah saja yang tahu. Semua itu dilakukan untuk merebut tanah yang dijanjikan Tuhan tadi.

 

Menachem Begin, yang memimpin pembantaian di Deir Yasin, pernah berkata: “Allah telah menjanjikan tanah ini kepada kami, kamilah yang berhak hidup di dalamnya.” Dalam pernyataannya kepada The Sunday Times, London, 15 Juni 1965, Golda Meir menjelaskan: “Tidak ada hak bagi bangsa Palestina. Tak jadi soal bahwa kami datang dan mengusir mereka, mengambil negeri mereka; karena pada dasarnya mereka tidak punya hak, Tawrat menjadi saksi atas demikian. Tanah ini telah dijanjikan Tuhan buat kami sejak dari zaman Ibrahim lagi.”

 

Perjanjian demi perjanjian hanya terletak di atas kertas saja. Mereka akan tetap melanggar perjanjian, karena pada dasarnya perjanjian tersebut dilarang oleh Tuhan : “Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka.” (Ulangan, 7: 2). Berbeza dengan Yosua, Israel zaman kini mengusir bangsa Palestina secara bertahap, perlah-lahan tapi pasti, bangsa Palestina harus meninggalkan tanah yang dijanjikan, atau mereka punah. Daerah demi daerah direbut dengan cara bertahap, rumah orang Palestina pada kawasan yang sudah direbut itu dihancurkan dan diatasnya dibangun pemukiman Yahudi baru. Planning ini sesuai dengan petunjuk Tuhan:

 

TUHAN, Allahmu, akan menghalau bangsa-bangsa ini dari hadapanmu sedikit demi sedikit; engkau tidak boleh membinasakan mereka dengan segera, supaya jangan binatang hutan menjadi terlalu banyak melebihi engkau. Demikianlah TUHAN, Allahmu, akan menyerahkan mereka kepadamu dan akan mengacaukan mereka sama sekali, sampai mereka punah.

(Ibid., ayat 22-23)

 

Planning ini harus tetap berjalan dan tidak boleh diubah-ubah. Tidakkah telah kita saksikan bahwa siapa saja yang menjada PerdanaMenteri Israel, namun kebijaksanaan mereka terhadap bangsa palestina tidak berubah?

 

PENUTUP

 

Jika etika dan agama merupakan dua persoalan yang sangat berkaitan, jika agama memang benar mempengaruhi budaya suatu bangsa, sehingga tidak ada kebudayaan yang tidak memiliki agama; maka konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina adalah merupakan konflik yang diwarnai oleh agama.  Bukan hanya konflik politik atau sekadar perebutan wilayah kekuasaan. Tapi bagi Israel, merupakan pelaksanaan perintah TUHAN demi merebut tanah yang dijanjikan.

 

Keganasan merupakan budaya bangsa Yahudi sejak dahulu kala, ini adalah kenyataan sejarah. Dan ianya mempunyai landasan dalam ajaran agama Yahudi sendiri. Dapatkah budaya Israel itu berubah? Perubahan budaya dapat terjadi dengan dua cara: Pertama, dengan mengubah tafsiran atau ajaran agama, misalnya yang berkenaan dengan akidah, ibadah, akhlak atau mu’amalah. Dengan perubahan tafsiran itu, maka berubahlah nilai budaya yang pada gilirannya mengubah perilaku. Kedua, adalah dengan penggantian agama yang menjadi sumber bagi nilai budaya itu sendiri (Tampubolon, Loc. cit.). namun, bagi bangsa Yahudi, kedua-dua cara tersebut adalah tidak mungkin. Ayat-ayat Perjanjian Lama seperti dikutipkan di atas, demikian pula ajaran Talmud sudah sangat jelas, sehingga tidak mungkin mentafsirkannya kepada yang lain. Merubah agama lebih tidak mungkin lagi daripada merubah tafsirannya, mengingat Israel adalah sebuah bangsa yang eksklusif. Maka mengharapkan Israel hidup berdampingan secara damai dengan bangsa Palestina dalam tanah yang dijanjikan itu, samalah dengan mengharapkan kucing bertanduk.

 

 Wallahu a‘lam !

 

RUJUKAN:

 

ALKITAB (Terjemhan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) (2001), Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Bar, Muhammad Ali al- (1990), al-Madkhal li Dirasah al-Tawrah wa al-‘Ahd al-Qadim. Damascus: Dar al-Qalam.

_______ (1998), Tahrif al-Tawrah wa siyasah Israil al-Tawassu‘iyyah. Damascus: Dar al-Qalam.

Fromm, Eric (1988), Psikoanalisa dan Agama, (terj.). Jakarta: Atisa Pers.

Tampubolon, Usman (1993), “Kekuasaan, Pendeta, Otak-atik (Pelesetan) dan Teosofi dalam Kebudayaan Jawa,” Media Dakwah, no. 230, Shafar 1414/Agustus 1993, hh. 28-32.

Wa‘iy, Tawfiq al- (1995), al-Yahud, Tarikh Ifsad wa Inhilal wa Damar. Beirut: Dar Ibn Hazm.

Zaheer, Syed Iqbal (1993), The Short History of Israel. Jeddah: Abul-Qasim Publishing House.

Zaza, Hasan (1987), Abhath fi al-Fikr al-Yahudiy. Damascus: Dar al-Qalam.

_______ (1995), al-Fikr al-Diniy al-Yahudiy, Atwaruhu wa Mazahibuhu. Damascus: Dar al-Qalam.