Make your own free website on Tripod.com

Artikel Fikri Mahmud

Punca Perselisihan Umat Islam Malaysia: Masalah Definisi

Home
Pengantar
Gerakan Teroris Dalam Masyarakat Islam: Analisis Terhadap Gerakan Jemaah Islamiah (JI)
Citra Barat Tentang Islam: Tinjauan Terhadap Kes Karikatur Nabi Muhammad
Landasan Relijuis Keganasan Israel
Islam dan Imej Keganasan: Satu Analisa Tentang Prinsip Jihad Dalam Al-Qur'an
Urgensi "Fiqih Realitas"
Antara Bahasa, Fikiran, dan Tindakan
Politik dan Perpecahan Umat Islam: Latar Belakang Sejarah
Keadilan Kata-kata Dalam Perspektif Islam dan General Semantic
Punca Perselisihan Umat Islam Malaysia: Masalah Definisi
Penyakit "Extension" Dalam Logika Politik
Konsep Diri dan Agama
Revitalisasi Syariah Islam: Perlunya Sikap Terbuka Memandang Mazhab

 

 PUNCA PERSELISIHAN UMAT ISLAM MALAYSIA:

 MASALAH DEFINISI

 

Oleh : Fikri Mahmud

 

 

Ada satu hal yang menarik yang berlaku pada Umat Islam Malaysia kebelakangan ini, yaitu masalah definisi (tarif). Umat Islam di Negara ini belum sepakat dalam menentukan definisi Negara Islam, Jihad, Umat Islam ,Syariat Islam, Pemimpin Islam, dan sebagainya. Definisi adalah dasar tempat berpijak dalam menentukan kebijaksanaan yang akan diambil kemudian. Kesamaan definisi akan membawa kepada kesaman tujuan dan strategi perjuangan., Sebaliknya, perbedaan definisi akan menimbulkan perbedaan tujuan dan kelainan perilaku, - bahkan perpecahan.

 

Jalaluddin Rakhmat, cendekiawan muslim Indonesia, pernah menulis tentang Islam di Indonesia: Masalah Definisi (dlm.. M. Amien Rais, ed., Islam di Indonesia Suatu Ikhtiar Mengaca Diri, Jakarta: CV. Rajawali, 1986). Rakhmat melihat bahwa salah satu punca bagi perpecahan umat Islam di Indonesia adalah karena perbedaan definisi. Apa yang terjadi di Indonesia boleh jadi berlaku pula di negara lainnya, termasuk Malaysia. Tulisan ini hendak meninjau masalah Umat Islam di Malaysia dari satu segi: Definisi Situasi. Sebagian besar dari tulisan ini akan saya pinjam dari tulisan Rakhmat diatas. Saya akan mengadaptasikannya dengan keadaan Umat Islam disini. Tetapi, sebelum mengulas lebih jauh, terlebih dahulu kita definisikan istilah   kunci yang dipergunakan dalam tulisan ini, yaitu definisi situasi.

 

DEFINISI SITUASI

Definisi situasi dipinjam daripada sosiolog William Isaac Thomas (1863-1947)- menunjukkan persepsi seseorang dan penafsirannya tentang faktor-faktor sosial yang terjadi pada masa tertentu. Setiap hari kita berhadapan dengan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi kita;, sama ada berupa konsep (seperti: kata jihad, negara islam, syariat islam, dan sebagainya), mahupun benda-benda konkrit (seperti: mesjid, sekolah, surat kabar, dan lain-lainnya). Kepada faktor-faktor sosial itu kita memberikan penafsiran atau makna.

 

Anda mungkin memandang jihad sebagai peperangan melawan orang kafir, sedangkan kelompok militan mungkin memandangnya sebagai usaha untuk menghancurkan sistem kezaliman dan kemaksiatan, sementara kelompok sufi memandang jihad sebagai upaya untuk menaklukkan hawa nafsu. Tetapi, apa kata si Fulan? Usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Melayu adalah jihad. Bagi anda masjid mungkin sahaja tempat untuk bersholat, berzikir, dan berdoa, sedangkan Sidi Gazalba memandangnya sebagai pusat kebudayaan islam. Tetapi bagi si Fulan, masjid adalah tempat yang efektif untuk menghasut jemaah supaya membenci pemerintah, sehingga para muballigh perlu diawasi, demikianlah seterusnya. Faktor-faktor sosial itu kita sebut situasi, dan penafsirannya kita sebut definisi situasi.

 

Didalam Al-Quran disebut tiga kali ayat Ma Lakum Kaifa Tahkumun (Q.S.10:35; 37:154; 68:36) yang diertikan oleh Al-Quran dan Terjemahannya: Bagaimanakah kamu mengambil keputusan?. Kata Tahkumun bererti mengambil keputusan, mengeluarkan pendapat, memberikan penilaian, menjatuhkan vonis (hukuman), menetapkan norma, memiliki kekuasaan, memerintah, mengendalikan (Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic). Kata Tahkumun merentangkan makna definisi situasi.

 

DEFINISI SITUASI DAN PERILAKU KITA

Perilaku kita ditentukan oleh definisi situasi kita. Suatu peristiwa atau konsep akan menimbulkan perilaku yang berbeda, bila didefinisi-situasikan secara berlainan. Jika seorang muslim menganggap negaranya sebagai negara islam, bahkan sebagai keadaan yang terbaik bagi umat islam, maka ia akan mendukungnya dengan sepenuh hati. Apabila ia memandangnya sebagai negara yang sedang memperbaiki diri menuju tahap yang ideal sesuai dengan ajaran islam, ia akan mendukungnya, tetapi juga berusaha memperbaiki apa-apa yang kurang didalamnya. Bayangkan apabila ia menganggap negaranya sebagai sistem taghut yang zalim.

 

Apabila si Fulan kita pandang sebagai musuh, kita akan memperlakukannya sebagai musuh, seluruh tubuh dan jiwa kita akan bereaksi kepadanya seperti terhadap musuh. Fulan itu sendiri boleh jadi seorang sahabat yang baik, yang tidak bermaksud jahat, tetapi bila ia kita definisikan sebagai musuh, akibatnya pada perilaku kita betul-betul seperti musuh yang sebenarnya. Pendek kata If human beings define situations as real, they are real in their consequences, kata W.I. Thomas.

 

Setiap orang tidak mungkin mendefinisikan situasi secara sepakat. Pemberian makna secara sepakat tidak pernah ada. Namun demikian interaksi sosial baru terjadi apabila di antara anggota masyarakat ada kesatuan definisi untuk situasi-situasi tertentu (shared definition of situation). Kita akan menumbuhkan saling pengertian bila kita mempunyai peta kognitif yang sama untuk faktor-faktor sosial yang mempengaruhi kita semua. Dalam kaitannya dengan islam, kita harus mempunyai penafsiran yang sama tentang komponen-komponen utama yang membentuk umat islam. Penafisran itu tidak perlu sepenuhnya sama, tetapi secara keseluruhan menunjukkan kesamaan. Setidak-tidaknya ada tiga komponen utama yang harus didefinisikan secara sama; umat islam, syariat islam, dan pemimpin islam. Definisi kita tentang tiga komponen itu akan menentukan perilaku kita sebagai anggota masyarakat.

 

DEFINISI UMAT ISLAM

Sekurang-kurangnya ada lima definisi umat islam: definisi nominal, ritual, intelektual, sosial, dan ideologikal.

 

Pertama, umat islam didefinisikan sebagai himpunan orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai pemeluk agama islam. Definisi ini kita sebut definisi nominal. Dengan definisi ini Umat Islam di Malaysia jumlahnya banyak.

 

Kedua, Umat Islam didefinisikan sebagai himpunan orang-orang yang sudah menjalankan ritus-ritus keagamaan, atau upacara-upacara ibadat, seperti: shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Definisi ini kita sebut definisi ritual. Dengan definisi ini jumlah umat Islam sudah mulai menurun dan berkurang.

 

Ketiga, Umat Islam adalah himpunan orang-orang yang memiliki pengetahuan yang memadai, atau lebih dari itu, tentang ajaran Islam. Definisi ini kita sebut definisi intelektual. Dengan definisi ini jumlah Umat Islam semakin berkurang saja.

 

Keempat, Umat Islam adalah himpunan orang-orang yang berusaha mengatur perilakunya ditengah-tengah masyarakat sesuai dengan ajaran Islam, seperti: dalam berpakaian, makan-minum, bertetangga, berniaga, bergaul, dan sebagainya. Definisi ini kita sebut definisi sosial. Dengan definisi ini jumlah Umat Islam semakin sedikit.

 

Kelima, Umat Islam adalah himpunan orang-orang yang terpaut secara ideologi dengan ajaran Islam. Mereka memandang Islam sebagai way of life yang harus dijadikan dasar dalam memandang persoalan-persoalan dunia. Mereka sering disebut sebagai kaum fundamentalis, atau orang-orang yang menampilkan Islam sebagai sistem alternatif. Mereka bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar, atau menegakkan syariat Islam. Definisi ini kita sebut definisi ideologikal. Dengan definisi ini, Umat Islam hanya sekelompok kecil saja.

 

Apa pengaruh definisi-definisi diatas? Ketidak-jelasan definisi yang dipergunakan akan menimbulkan kesalahpahaman dalam memandang Umat Islam. Ada yang heran, mengapa ada orang yang mengaku muslim, tetapi perangainya lebih buruk daripada non-muslim. Ada pula yang takjub, mengapa orang yang membeli nombor-nombor ramalan (perjudian) banyak yang memakai kopiah putih atau bertudung. Ini disebabkan oleh karena menggunakan dua definisi sekaligus; nominal dan sosial.

 

Hubungan antara Umat Islam dengan pemerintah pun diwarnai juga oleh definisi yang dipergunakan. Kelompok yang mempergunakan definisi nominal cenderung kompromistik, semua yang mengaku beragama Islam dapat disebut Umat Islam dan dapat diperlakukan sebagai Umat Islam. Kelompok yang mendefinisikan Umat Islam secara ideologikal, cenderung bersikap non-kompromistik, ekstrim, radikal, bahkan mereka dapat mengkafirkan golongan Islam yang tidak sefaham dengan mereka. Sebagian memandang pemerintah sekarang dengan definisi nominal atau ritual, maka mereka menilai bahwa pemerintah yang ada saat ini adalah pemerintah Islam. Sebagian lagi memandang pemerintah sekarang merusak Umat Islam dan syariat Islam (dengan menggunakan definisi sosial atau ideologikal).Perbedaan definisi yang dipergunakan akan mendorong kelompok pertama merangkul dan juga dirangkul pemerintah, dan kelompok kedua menentang, bahkan memusuhi pemerintah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok militan.

 

DEFINISI SYARIAT ISLAM

Perbezaan dalam mendefinisikan Umat Islam diatas, mempunyai kaitan dengan definisi syariat Islam. Sebahagian Umat ada yang mendefinisikan syariat Islam dengan menekankan kepada aspek-aspek ritual, atau ibadah saja, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan sebagaianya. Sebahagian lagi ada yang memandang syariat Islam dari segi mistikal, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum sufi. Kelompok lain ada pula yang memasukkan budaya dan tradisi tempatan kepada syariat Islam, yang disebut dengan bidah dan khurafat. Ada diantara Umat ada yang memandang syariat Islam dari segi ritual dan sosial saja, ada pula yang mendefinisikannya lebih komprehensip, dengan memasukkan unsur ritual, sosial dan ideologikal. Kelompok terakhir ini biasanya mengumandangkan slogan Islam kaffah .

 

Untuk mengetahui definisi mana yang lebih benar memang dapat merujuk kepada acuan normatif, tetapi kita tidak membicarakan definisi denotatif (seperti yang terdapat dalam buku-buku keislaman), yang kita bicarakan adalah definisi perseptual; definisi situasi. Jadi dari dua definisi diatas (Umat Islam dan syariat Islam) dapat kita pahami mengapa terjadi perdebatan antara pemerintah dengan PAS dalam menentukan apakan Malaysia sudah boleh disebut negara Islam, atau belum. Masing-masing kelompok menggunakan definisi yang berbeza dengan definisi yang digunakan oleh kelompok lainnya. Ada yang melihat bahawa negara Islam ialah negara yang memberlakukan hukum Islam sebagai hukum negara, dengan erti kata kekuatan dan kekuasaan negara berada pada Umat Islam. Ada pula yang berpendapat bahawa negara Islam itu adalah negara atau pemerintahan yang penduduknya mayoriti beragama Islam, sekalipun kekuasaan negara berada bukan pada Umat Islam. Dan ada pula yang berpendapat bahawa negara Islam adalah negara atau pemerintahan dimana Umat Islam merupakan minoriti, tetapi mereka diberi kebebasan untuk menegakkan syiar Islam, sekalipun kekuasaan negara berada ditangan non-muslim. Banyak lagi definisi-definisi yang tidak perlu kita tuliskan disini.

 

Pendefinisian Umat Islam dan syariat Islam adalah masalah persepsi, jadi tidak dapat diselesaikan melalui rujukan-rujukan normatif (misalnya Al-Quran dan Sunnah). Menurut istilah ushul fiqh, persepsi adalah masalah ijtihadiah. Tetapi, ijtihad siapa yuang harus diikuti? Apakah setiap orang boleh menjadi mujtahid dan mengikuti ijtihadnya sendiri? Atau kita memerlukan institusi yang ijtihadnya mengikat kita semua? Menetapkan mujtahid yang akan diikuti itu, bererti menetapkan siapa pemimpin Islam.

 

DEFINISI PEMIMPIN ISLAM

Setidak-tidaknya ada tiga cara dalam mendefiniskan pemimpin Islam. Pertama, pemimpin Islam adalah pemimpin masyarakat yang beragama Islam, paling tidak secara nominal atau ritual. Definisi ini seperti definisi Umat Islam yang nominal, dan pemimpin dengan definisi ini biasanya disebut umara atau zuama. Kedua, pemimpin Islam adalah para ulama yang mempunyai pengikut ditengah-tengah masyarakat. Ulama itu umumnya didefinisikan secara intelektual. Dan ketiga, pemimpin Islam ialah orang-orang yang menduduki pimpinan organisasi-oraganisasi (politik atau massa) yang berasaskan Islam, atau setidak-tidaknya mengaku memperjuangkan aspirasi mat Islam. Definisi ini kita sebut definisi posisional.

 

Definisi mana yang akan kita gunakan?  Bila kita menggunakan definisi pertama, maka pemimpin-pemimpin negara yang beragama Islam dapat kita sebut pemimpin Islam. Janganlah kita kairan jika Dr. Mahathir Mohammad dianggap pemimpin Islam oleh banyak negara didunia, walaupun dikafirkan oleh sebahagian kelompok dinegaranya sendiri. Menggunakan definisi kedua bukan tanpa risiko, kerana mengenai pengertian ulama itu sendiri sekarang sudah mengalami penurunan makna. Kadang-kadang muballigh yang pandai berceramah dianggap juga ulama. Kini kita bedara pada masa seperti yang dikatakan oleh Rasulullah kepada sahabatnya: Kamu berada dalam satu zaman yang banyak fuqohanya dan sedikit khutobanya, sedikit yang meminta dan banyak yang memberi; kelak akan ada satu masa, khutobanya banyak, fuqohanya sedikit; sedikit yang memberi, banyak yang meminta (At-Thabrani).

 

Siapa yang berhak disebut ulama dan bagaimana perwatakannya, masih belum disepakati. Katakanlah ulama itu mesti faqih, mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Islam, mampu berijtihad, ia harus zahid, abid, mukhlis dan sebagainya. Tetapi, adakah di negara ini ulama yang diakui oleh sumua pihak? Sebut saja mufti kerajaan dan anggota-anggota majelis fatwa. Siapakah yang melantik mereka? Adakah mereka dipilih oleh ulama-ulama yang ada di negara ini, atau ditunjuk berdasarkan kemahuan pemerintah. Di beberapa negara Islam umumnya yang dilantik menjadi anggota majelis fatwa itu adalah orang-orang yang dekat dengan pemerintah, akibatnya fatwa seringkali keluar sesuai dengan definisi situasi pemerintah dari pada yang dihajatkan oleh Umat.

 

Akhirnya kita menilik kepada definisi ketiga, apakah orang-orang yang menduduki posisi pimpinan dalam organisasi (politik atau massa) yang beragama Islam dapat dianggap sebagai pemimpin Islam? Mungkin mereka dapat dikatakan sedemikian, disamping menduduki posisi teratas dalam parti atau organisasi tersebut, mereka juga berakar kebawah, mereka mempunyai pengikut. Tetapi, kebelakangan ini definisi posisional itu tidak lagi mencerminkan kepemimpinan Islam;  Sekarang ramai orang yang meduduki posisi penting melalui intrik-intrik politik dan bukan dilahirkan oleh massa organisasi. Mereka menjadi Pulau-Pulau Terapung dan tidak berkaitan dengan massa, kecuali dalam kempen pilihan raya saja.

 

Lalu apa pengaruh definisi-definisi diatas terhadap perilaku kita? Jika si Fulan kita anggap pemimpin Islam, kita akan menghormatinya dan memuliakannya, serta menghargai kebijaksanaan-kebijaksanaannya. Tetapi, jika ia kita anggap sebagai pemimpin yang merusak Islam, kita akan mencaci-makinya dan memusuhinya, serta membangkang segala kebijaksananannya.

 

Kelemahan Umat Islam yang terbesar adalah tidak adanya pemimpin yang diakui oleh semua pihak. Masing-masing kelompok mempunyai dan hanya mengakui pemimpin dari kelompoknya sendiri, sesuai dengan definisi yang dipegangnya. Padahal salah satu dari peranan pemimpin itu adalah menetapkan definisi situasi yang akan diikuti oleh semua pihak. Jika masalah pemimpin ini sudah disepakati, maka masalah Umat Islam dan syariat Islam diatas dapat diselesaikan.

 

JALAN KELUAR?

Kita tampaknya belum sepakat dalam mendefinisikan Umat Islam, Syariat Islam, dan Pemimpin Islam. Perbezaan definisi ini bukan saja menyebabkan perbezaan dalam strategi perjuangan, tetapi juga menimbulkan perilaku yang berlainan. Untuk mencapai kesamaan definisi secara total memang tidak mungkin, namun kita dapat mencari titik temu diantara definisi-definisi yang ada. Untuk itu kita memerlukan forum-forum yang mengkaji definisi dari pada berbagai kelompok dan merujukkannya kepada rujukan yang disetujui bersama, dan kemudian memasyarakatkannya, sehingga menjadi definisi yang dominan. Katakanlah misalnya definisi mat Islam, definisi intelektual yang kita ambil, kita akan sampai pada strategi yang sama ; pendidikan. Kita akan berfikir bahwa islamisasi mat Islam adalah langkah awal yang harus dilakukan sebelum bergerak kearah langkah-langkah yang bersifat struktural.

 

Ramai orang yang sering menganggap forum-forum itu sebagai perlombaan berbicara yang tidak bermanfaat, dan sering menuntut hal-hal yang bersifat operasional, mereka lupa bahwa revolusi konseptual jauh lebih besar pengaruhnya terhadap perubahan Umat dari pada revolusi fisik, -bahkan revolusi fisik tanpa revolusi konseptual sering hanya mengulangi kesalahan yang lama.

 

Tetapi yang paling penting ialah kesediaan semua pihak untuk mempersoalkan definisi situasi yang dimilikinya dan mengubahnya bila diperlukan. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum , sehingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri (Q.S.13:11)

Wallahu alam !