Make your own free website on Tripod.com

Artikel Fikri Mahmud

Konsep Diri dan Agama

Home
Pengantar
Gerakan Teroris Dalam Masyarakat Islam: Analisis Terhadap Gerakan Jemaah Islamiah (JI)
Citra Barat Tentang Islam: Tinjauan Terhadap Kes Karikatur Nabi Muhammad
Landasan Relijuis Keganasan Israel
Islam dan Imej Keganasan: Satu Analisa Tentang Prinsip Jihad Dalam Al-Qur'an
Urgensi "Fiqih Realitas"
Antara Bahasa, Fikiran, dan Tindakan
Politik dan Perpecahan Umat Islam: Latar Belakang Sejarah
Keadilan Kata-kata Dalam Perspektif Islam dan General Semantic
Punca Perselisihan Umat Islam Malaysia: Masalah Definisi
Penyakit "Extension" Dalam Logika Politik
Konsep Diri dan Agama
Revitalisasi Syariah Islam: Perlunya Sikap Terbuka Memandang Mazhab

 

KONSEP DIRI DAN AGAMA

 

Oleh: Fikri Mahmud

 

 

 

Konsep Diri

 

                   Charles Horton Cooley (1864-1929), mengatakan bahwa kita dapat mempersepsi diri sendiri dengan berperan sebagai subjek dan objek persepsi sekaligus. Bagaimana boleh terjadi? Kita melakukannya dengan membayangkan diri kita sebagai orang lain; dalam benak kita. Cooley menyebut gejala ini dengan looking-glass self (diri cermin); seakan-akan kita menaruh cermin didepan kita. Pertama, kita membayangkan bagaimana kita tampak oleh orang lain; kita melihat sekilas diri kita seperti dalam cermin. Misalnya, kita merasa wajah kita jelek. Kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Kita fikir mereka menganggap diri kita tidak menarik. Ketiga, kita mengalami perasaan bangga atau keewa, mungkin juga merasa sedih atau malu. Ini sejalan dengan pandangan William James yang membedakan antara The I,diri yang sadar dan aktif, dan The me, diri yang menjadi objek renungan kita.

 

Dengan mengamati diri kita, sampailah kita pada gambaran dan penilaian diri kita. Ini disebut konsep diri (self-concept). Lalu apa yang disebut konsep diri itu?  William D. Brooks mendefinisikannya dengan those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others. Jadi konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi  tentang diri ini boleh jadi bersifat fisik (seperti pada contoh pertama diatas), sosial (contoh kedua), dan psikologi (contoh ketiga).

 

Konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi juga penilaian anda tentang diri anda. Konsep diri meliputi apa yang anda fikirkan, dan apa yang anda rasakan tentang diri anda. Karena itu, Anit Taylor,et al., mendefinisikannya sebagai all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about yourself.

 

Ada dua komponen konsep diri: komponen kognitif dan komponen afektif. Boleh jadi komponen kognitif anda berupa, saya ini orang bodoh, dan komponen afektif anda berkata saya senang diri saya bodoh, ini lebih baik bagi saya. Dan boleh jadi komponen kognitif anda seperti tadi, tetapi komponen afektif anda berbunyi saya malu sekali, karena saya menjadi orang bodoh. Dalam psikologi sosial komponen kognitif itu disebut citra diri (self-image), dan komponen afektif disebut harga diri (self-esteem). Keduanya , menurut William D. Brooks dan Philip Emmert, berpengaruh besar pada pola komunikasi interpersonal. Konsep diri juga berpengaruh pada hubungan sosial dan hidup bermasyarakat. (Rakhmat, 1993: 99-100)

 

Konsep Diri dan Perilaku

 

Suatu perkara yang sama akan menimbulkan perilaku yang berlainan bila terdapat pada orang-orang yang memiliki konsep diri yang berbeda. Konsep diri ada yang positif dan ada pula yang negatif. Konsep diri yang positif akan menimbulkan perilaku yang positif. Sedangkan konsep diri yang negatif akan menimbulkan perilaku yang negatif pula. Dalam bahasa agama islam, yang pertama disebut al-akhlaqul mahmudah (akhlak yang terpuji), dan kedua disebut al-akhlaqul mazmumah (akhlak yang tercela).

 

Bagi Firaun kerajaan yang dimilikinya telah membuat ia takabur, sehingga ia mengaku menjadi Tuhan (Q.S.79:24). Tetapi, bagi nabi Sulaiman tidak membuatnya sombong, ini adalah karunia dari Tuhanku, Ia ingin mengujiku, apakah aku akan bersyukur atau inkar. Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya, dan barangsiapa yang ingkar, sesungguhnya Tuhanku maha kaya lagi maha mulia (Q.S.27:40). Walaupun keduanya sama-sama memiliki kerajaan yang besar, tetapi masing-masing mempunyai perilaku yang berbeda. Yang pertama mewakili konsep diri yang negatif, sedangkan yang kedua merupakan konsep diri yang positif. Boleh jadi keduanya mempunyai komponen kognitif yang sama, saya adalah seorang raja yang besar, tetapi keduanya berbeda dalam komponen afektif yang membentuk konsep diri masing-masing, kerajaan ini milik saya, dan kekuasaan saya mutlak, tidak boleh diganggu-gugat (bagi yang pertama), dan kerajaan ini amanah dari Allah swt. dan kekuasaan saya mesti saya pergunakan sesuai dengan petunjuknya (bagi yang kedua).

 

Setiap orang cenderung untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri masing-masing, ini disebut dengan nubuwat yang dipenuhi sendiri (self-fulfilling prophecy). Jika anda berfikir bahwa anda adalah seorang pekerja yang baik, anda akan bekerja dengan tekun, datang on time, dan melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Bila si Fulan merasa bahwa dirinya adalah seorang muslim yang taat, ia akan rajin beribadah, sering mengikuti pengajian agama, melakukan perintah agamanya dan meninggalkan larangannya. Demikianlah seterusnya. Anda berusaha hidup sesuai dengan label yang anda lekatkan pada diri anda. Hubungan konsep diri dengan perilaku, mungkin dapat disimpulkan dengan ucapan para penganjur berfikir positif: You dont think what you are, you are what you think.

 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri

 

Pertama, orang lain.

Harry Stack Sullivan menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi karena keadaan diri kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita. Sebaliknya, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita, dan menolak keberadaan kita, kita akan cenderung tidak menyenangi diri kita. Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain lebih dahulu. Bagaimana anda menilai diri saya akan mempengaruhi dan membentuk konsep diri saya. Itulah sebabnya Gabriel Marcel, dalam The Mystery of Being, menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita: The fact is that we can understand ourselves by starting from the other, or from others, and only by starting from them.

 

Tidak semua orang mempunyai pengaruh yang sama pada diri kita, ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan diri kita. Mereka disebut oleh George Herbert Mead dengan significant others (orang lain yang sangat penting). Ketika kita masih kecil, mereka adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, dan orang-orang yang serumah dengan kita. Richard Dewey dan W.J.Humber menamainya dengan affective others (orang lain yang dengan mereka kita mempunyai ikatan emosional). Dari merekalah kita perlahan-lahan membentuk konsep diri. Senyuman, pujian, penghargaan dan pelukan mereka, menyebabkan kita menilai diri kita secara positif. Ejekan, cemoohan, kritikan, dan hardikan membuat kita memandang diri kita secara negatif.

 

Dalam usia remaja, significant others itu meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku kita, pemikiran kita, dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk fikiran kita dan menyentuh kita secara emosional. Orang-orang ini boleh jadi masih hidup, atau sudah mati. Anda mungkin memasukkan disitu idola anda, - pelakon, pahlawan kemerdekaan, pelaku sejarah, atau.orang yang anda cintai diam-diam.

 

Kedua, kelompok rujukan (reference group)

Ada kelompok yang secara emosional mengikat kita dan berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri kita. Ini disebut kelompok rujukan. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu. Orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri-ciri kelompoknya. Jika anda menjadi anggota kumpulan doktor, anda akan menjadikan norma-norma dalam kumpulan itu sebagai ukuran perilaku anda, anda juga merasa diri menjadi bagian dari kumpulan tersebut. Begitu juga jika anda salah seorang dari kelompok mujahidin, KMM misalnya, atau Al-Maunah, atau..Black Metal. Demikianlah seterusnya.

 

Agama dan Konsep Diri

 

Didalam Al-Quran disebutkan, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya; sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (Q.S.91:7-10). Jadi manusia diberi pengetahuan tentang hal-hal yang positif dan negatif. Selanjutnya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan dia tempuh. Manusia punya potensi untuk menjadi jahat, sebagaimana ia juga punya potensi untuk menjadi baik.

 

Agama (Islam) datang untuk mempertegas konsep diri yang positif bagi umat manusia. Manusia adalah makhluk yang termulia dari segala ciptaan Tuhan (Q.S.17:70). Karena itu, ia diberi amanah untuk memimpin dunia ini (Q.S.2:30). Walaupun demikian, manusia dapat pula jatuh kederjat yang paling rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (Q.S.95:6). Keimanan akan membimbing kita untuk membentuk konsep diri yang positif, dan konsep diri yang positif akan melahirkan perilaku yang positif pula, yang dalam bahasa agama disebut amal sholeh. Tidak sedikit ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran yang menyebut kata iman dan diiringi oleh kata amal (allazina amanu wa amilus-sholihat), ini bukan saja menunjukkan eratnya hubungan diantara keduanya, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya iman dan amal tersebut, sehingga nilai seseorang ditentukan oleh iman dan amalnya juga. Sesungguhnya Allah Taala tidak akan melihat kepada bentuk (rupa) kamu, tidak pula keturunan (bangsa) kamu, tidak juga harta kamu; tetapi , ia melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu. (H.R.At-Thabrani). Semua manusia adalah sama disisi Allah, yang lebih mulia hanyalah orang yang paling bertakwa (Q.S.49:13).

 

Memang diakui adanya kemungkinan seseorang akan dapat dipengaruhi oleh lingkungan teman sepergaulannya sebagai reference group (Q.S.2:14; 17:73; 37:51-53; 41:25; 43:67) dan bujuk rayu syaithon (Q.S.4:38; 6:43; 8:48; 25:28-29; 27:24), tetapi semua itu tidak akan berbekas jika seseorang memiliki keimanan yang tangguh (Q.S.5:105; 17:65). Itulah sebabnya Rasulullah saw. menghabiskan masa 13 tahun di Mekah untuk menanamkan keimanan kepada para pengikutnya.

 

Islam juga memerintahkan agar umatnya menciptakan masyarakat yang harmoni, - baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur. Islam melarang umatnya supaya tidak saling mencela, saling mencemooh, dan jangan memberi gelaran yang jelek (Q.S.49:11). Celaan dan gelaran yang jelek akan dapat mempengaruhi konsep diri seseorang. Disamping itu, Rasul memerintahkan supaya anak yang lahir diberi nama yang baik. Nabi sendiri  banyak mengganti nama para sahabatnya. Ketika seorang sahabat menyebut namanya Hazn (dukacita), Nabi menggantinya dengan Farh (sukacita); Al-Mudhtaji (yang terbaring) diganti oleh Nabi dengan Al-Munbaits (yang bangkit); orang yang namanya Harb (perang) diganti nabi dengan Silm (damai), dan banyak lagi yang lain. Beliau juga banyak memberi gelaran yang baik kepada sahabatnya. Abu bakar digelari dengan As-shiddiq (yang sangat benar), Umar digelari dengan Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan yang bathil), Kholid diberi gelar Saifullah (pedang Allah), Abu Ubaidah digelari dengan Aminul Ummat (penjaga amanat umat), dan lain sebagainya.

 

Para psikolog modern dikemudian hari menyadari betapa pentingnya nama dalam membentuk konsep diri, secara tak sadar orang akan didorong untuk memenuhi citra (image) yang terkandung didalam namanya. Teori Labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya atau menggelarinya sebagai penjahat. Berilah gelar anak anda si nakal, insya Allah seumur hidup ia akan tetap nakal.  Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya. Amin mungkin menjadi penipu, tetapi nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi mengganti namanya, atau mengubah perilakunya.

 

Islam juga menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak, terutama dalam keluarga. Pendidikan yang diterima seseorang dimasa kecil akan dapat mempengaruhi konsep dirinya dikemudian hari. Banyak orang tua yang kurang memahami makna pendidikan; mereka beranggapan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan hanyalah pendidikan yang disengaja saja (seperti mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak, dan lain sebagainya) yang ditujukan kepada objek didik, yaitu anak. Yang lebih penting adalah keadaan dan suasana rumah tangga, keadaan jiwa ibu bapak,hubungan antara satu sama lainnya, dan sikap mereka terhadap rumah tangga dan anak-anak. Segala persoalan orang tua itu akan mempengaruhi jiwa anak-anak, dan akan ikut membentuk konsep diri mereka. Karena itu keluarga dituntut supaya memberikan ketenteraman (sakinah), kasih sayang (mawaddah wa rahmah) dan rasa aman kepada anak-anak. Nabi berkata: Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling penyayang terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling sayang terhadap keluargaku. Beliau menunjukkan contoh bagaimana ia menyayangi putrinya Fatimah. Pada saat anak perempuan dipandang rendah, beliau mengangkat Fatimah. Bila nabi tengah berada dalam majelis dan melihat Fatimah datang, ia segera bangkit. Tidak jarang beliau mencium tangan Fatimah didepan para sahabatnya, - cium penghormatan dan kasih sayang sekaligus. Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang kecil katanya. Tentang suasana rumah tangganya nabi berkata: Rumah tanggaku adalah surgaku.

 

Bila orang tua gagal memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya, mereka tak akan mampu mencintai orang tua mereka. Dalam pergaulan sosial pun mereka tak akan mampu mencitai atau menyayangi orang lain. Pada tahun 1960-an para psikolog terpesona oleh penelitian yang dilakukan oleh Harry Harlow, dengan memisahkan anak-anak monyet dari induknya, kemudian ia mengamati pertumbuhannya. Monyet-monyet itu ternyata menunjukkan perilaku yang menyimpang, selalu ketakutan, tidak dapat menyesuaikan diri, dan sangat mudah terkena penyakit. Setelah monyet-monyet itu besar dan melahirkan pula, mereka menjadi ibu-ibu yang kejam dan berbahaya, mereka tidak memperdulikan anak-anaknya dan seringkali melukai mereka. Para psikolog menyebut situasi tanpa ibu itu dengan maternal deprivation.

 

Walaupun tidak diadakan percobaan terhadap anak-anak manusia sebagaimana yang dilakukan terhadap monyet-monyet tadi, tetapi para peneliti menemukan gejala yang sama pada anak-anak yang mengalami maternal deprivation pada awal kehidupan mereka. Pada manusia pemisahan anak dari orang tua ini dapat terjadi secara fisik (karena perceraian misalnya, atau meninggal) dan dapat pula terjadi secara psikologis (tidak terpisah secara fisik, tetapi tidak mendapat kasih sayang secara memadai), yang kedua ini disebut masked deprivation (deprivasi terselubung). Ini dapat terjadi misalnya karena orang tua terlalu sibuk bekerja, sehingga tidak sempat memberikan kasih sayang mereka kepada anak-anaknya. Anak yang mengalami deprivasi cenderung menderita kecemasan, merasa tidak tenteram, rendah diri, kesepian, agresif, cenderung melawan orang tua, dan pertumbuhan kepribadian mereka mengalami keterlambatan, mereka sukar belajar. Bila berumah tangga, mereka cenderung menjadi bapak atau ibu yang tidak mampu menyayangi anak-anaknya. James Coleman menyebut kekurangan kasih sayang tersebut dalam Abnormal Psychology and Modern Life, sebagai Communicable Disease (penyakit menular). Itulah sebabnya Rasul menekankan perlunya membina kasih sayang dalam keluarga.

 

Kini tidak sedikit buku-buku ditulis orang tentang cara mendidik anak yang merujuk kepada sunnah Rasul. Banyak tuntunan-tuntunan yang diberikan oleh Nabi yang dapat kita jadikan pedoman (sama ada bagi orang tua, atau guru) dalam menumbuhkan konsep diri yang baik bagi anak-anak kita. Sayang sekali kami tidak dapat menuliskannya disini lebih luas lagi. Tetapi, sebelum menutup tulisan ini, saya hendak menyalinkan sebuah sajak yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte (dikutip oleh Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc, dalam bukunya Psikologi Komunikasi) yang bertajuk Childern Learn What They Live (Anak-anak Belajar dari Kehidupan Mereka):

 

If a child lives with criticism, he learns to condemn. / If a child lives with hostility, he learns to fight. / If a child lives with ridicule, he learns to be shy. / If a chidl lives with shame, he learns to feel guilty. / If a child lives with tolerance, he learns to be patient. / If a child lives with encouragement, he learns to be confident. / If a child lives with praise, he learns to appreciate. / If a child lives with fairness, he learns justice. / If a child lives with security, he learns to have faith. / If a child lives with approval, he learns to like himself. / If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world.

 

Terjemahannya kira-kira begini:

 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. / jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. / Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. / Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. / Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. / Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. / Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. / Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan, / Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. / Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri. / Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan,

 

Wallahu alam !

 

 

Rujukan:

 

Al-Quran dan Terjemahannya, Medinah Munawwarah, Mujamma Al-Malik Fahd Li Thibaati

            Al-Mush-haf Asy-Syarief, 1418 H.

AlAmir, Najib Khalid, Tarbiyah Rasulullah, terj., Jakarta: Gema Insani Press, 1994.

Albaili, Mohamed A., Abdul Qader A., Qassem & Ahmed A. Al-Samadi, Educational Psycho-

logy and its Application, Kuweit: Al-Falah Library, 1997.

Daradjat, Zakiah, Kesehatan Mental, Jakarta: CV. Haji Masagung, 1990.

El-Quussy, Abdul Aziz, Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental, terj., Jakarta: Bulan Bintang,

1975.

Fahmi, Musthafa, Penyesuaian Diri, terj., Jakarta: Bulan Bintang, 1983.

Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993.

 ----------Islam Aktual, Bandung: Mizan, 1991.

Ulwan, Abdullah Nasih, Tarbiyah Al-Aulad Fi Al-Islam, Al-Ghoriah: Dar Al-Salam, 1997.